Gaya Bercinta yang Aman Ketika Hamil


seks_hamil1.jpgJAKARTA Melakukan hubungan seksual di kala sang istri sedang hamil, tentu ada hal-hal yang perlu diperhatikan, untuk menjamin keselamatan kehamilannya itu sendiri. Bagi istri Anda, hubungan seksual selama hamil bukan hanya sebuah aktivitas yang mengasyikkan, tapi juga bermanfaat sebagai persiapan bagi otot-otot panggulnya untuk menghadapi proses persalinan kelak. Karena itu, berhubungan seksual selama kehamilan tak perlu dihapus. Tentu saja jangan melakukan gaya-gaya yang aneh-aneh apalagi yang ekstrim, hanya dengan alasan sekadar menambah variasi.

Memang pada masa kehamilan trimester pertama, Anda berdua masih punya banyak pilihan posisi bercinta. Namun, setelah beberapa bulan kemudian pilihan posisi itu semakin terbatas. Berikut panduan gaya bercinta yang bisa Anda dan pasangan lakukan.

 

1. Posisi Misionaris

 

Perempuan di bawah dan pria di atas. Jika dilakukan saat istri tengan hamil tentu menjadi tidak nikmat, bahkan bisa menyakitkan bagi istri Anda, bahkan juga untuk Anda sendiri. Itu sebabnya, posisi berhubungan seksual yang bisa dilakukan selama istri hamil adalah variasi dengan posisi menyamping, perut istri Anda terbebas dari tindihan.

 

2. Perempuan di Atas, Pria di Bawah

 

Dengan posisi ini, Anda (terutama istri Anda), bisa mencegah penekanan  terlalu banyak pada bagian perut dan payudara istri Anda, yang memang membahayakan kehamilannya. Posisi ini memungkinkan perempuan untuk memegang lebih banyak kendali atas gerakan. Istri dapat membuatnya lambat atau capat, sambil mengontrol kedalaman penetrasi.

 

3. Posisi Sendok

 

Posisi ini dilakukan dengan tubuh berbaring menyamping. Anda berada di belakang istri Anda, sehingga penetrasi dapat dilakukan dari belakang (tetapi bukan hubungan seksual anal. Hanya penetrasinya lewat arah belakang). Posisi ini juga sesuai dilakukan pada saat perut istri sudah besar, atau sat istri tidak dapat berperan aktif lagi selama bercinta (seperti pada posisi perempuan di atas).

 

4. Posisi Sendok Berhadapan

 

Posisi menyamping berhadapan dengan pasangan. Tarik satu kaki untuk memberi ruang pada pasangan untuk melakukan penetrasi. Posisi ini lebih cocok dilakukan pada triwulan pertama, ketika perut istri belum terlalu besar.

 

5. Posisi Duduk

 

Perempuan duduk di pangkuan pasangan, ketika hamil belum terlalu besar, posisi berhadapan dapat dilakukan. Tapi ketika perut semakin membesar, posisi tidak berhadapan dapat dipilih. Posisi ini dapat menjadi pilihan pada masa kehamilan akhir trimester ke-2 atau pada awal trimester ke-3. Posisi ini cukup nyaman, baik untuk istri maupun Anda sendiri, sekalipun tidak memberikan kesempatan bagi Anda berdua untuk banyak melakukan gerakan aktif saat pemanasan (foreplay). Sayangnya, posisi duduk ini hanya nyaman dilakukan bagi berat tubuh istri tergolong normal. Sebab, pada posisi ini Anda harus menopang berat tubuh istri pada pangkuan Anda.

 

6. Doggie Style

 

Agar perut tidak mendapat tekanan, istri bisa bersangga pada lutut dan tangannya, sepeerti hendak merangkak. Hanya saja, jika perut istri sudah sangat besar, bisa saja perut tetap menyentuh alas. Posisi ini juga tidak bisa dilakukan dalam tempo lama, karena cukup melatihkan bagi istri, walau ia tidak melakukan gerakan aktif. Keuntungannya, pembuluh darah di punggung tidak tertekan oleh berat perut.

 

7. Seks Non-Penetratif

Di luar alternatif-alternatif posisi tersebut, Anda bisa juga melakukan seks non-penetratif. Artinya, alat kelamin suami tidak perlu memasuki vagina istri. Suami istri bisa saling memberikan seks oral atau masturbasi.

Apa pun posisi yang Anda berdua pilih, nikmatilah aktivitas seksual itu bersama-sama dengan tetap memperhatikan kondisi kehamilan istri Anda. Asalkan kehamilan istri Anda dinyatakan tidak memiliki risiko apapun, Anda berdua bisa melakukan hubungan seksual kapan pun Anda berdua menginginkannya, bahkan sampai menjelang persalinan sekalipun. Dengan tetap menikmati aktivitas yang satu ini bersama suami, Anda berdua bisa sling berbagi rasa takut maupun kekhawatiran, serta stres yang mungkin muncul selama masa kehamilan.

 

Namun jika kehamilan istri Anda berisiko, seperti misalnya letak plasenta tidak pada posisi yang seharusnya (plasenta previa), maka lebih baik berkonsultasi dulu dengan dokter spesialis kandungan jika Anda berdua tetap ingin bisa berhubungan seksual. Begitu juga apabila istri mengalami perdarahan ringan, seperti keluarnya flek-flek pada kehamilan trimester pertama, tunda dulu keinginan itu. (DB, Mutiara Dwi R/Mom & Kiddie/via)

~ oleh fensliq pada 18 Agustus, 2007.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: